Kupang, lldikti15.kemdiktisaintek.go.id – Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XV, Prof. Dr. Adrianus Amheka, ST., M.Eng., mengajak generasi muda Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk melanjutkan pendidikan tinggi di daerah sendiri sebagai bagian dari kontribusi nyata mewujudkan Indonesia Emas 2045. Ajakan tersebut disampaikan dalam pembukaan kegiatan Bali Nusra Education Fair yang diselenggarakan oleh Pos Kupang pada Rabu, 25 Februari 2026 di Lippo Plaza Kupang dan dihadiri sejumlah siswa SMA/SMK serta perwakilan perguruan tinggi di NTT.
Dalam pemaparannya, Prof. Adrianus menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia unggul tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan daya saing global yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
“SDM unggul bukan hanya soal IPK dan nilai akademik, tetapi bagaimana memiliki karakter, daya tahan menghadapi tantangan, adaptif terhadap perubahan, serta mampu memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi daerah,” tegasnya.
Menanggapi anggapan bahwa kualitas perguruan tinggi di luar NTT lebih baik, Prof. Adrianus menegaskan bahwa standar mutu pendidikan tinggi di NTT setara dengan daerah lain di Indonesia karena seluruhnya mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi.
Ia menjelaskan, dari 57 perguruan tinggi swasta di wilayah binaan LLDIKTI XV, sebanyak 52 institusi telah terakreditasi, dan dari 346 program studi yang ada, 328 di antaranya telah terakreditasi. Secara keseluruhan, hampir 95 persen perguruan tinggi di NTT telah memenuhi standar nasional.

“Kalau akreditasinya sama, maka kualitasnya sama. Tidak ada disparitas mutu antara kampus di NTT dan kampus di luar NTT selama memenuhi standar nasional,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa sistem akreditasi terbaru kini hanya mengenal status terakreditasi dan tidak terakreditasi, sehingga masyarakat tidak perlu meragukan kualitas lulusan perguruan tinggi di NTT.
Meski demikian, Prof. Adrianus mengakui bahwa tantangan utama dalam akses pendidikan tinggi masih berkaitan dengan pembiayaan. Untuk menjawab hal tersebut, pemerintah terus meningkatkan kuota beasiswa KIP Kuliah. Saat ini, lebih dari 11 ribu mahasiswa di wilayah NTT menerima dukungan KIP Kuliah, dan jumlah tersebut terus diupayakan meningkat.
“Kehadiran pemerintah melalui kebijakan beasiswa harus benar-benar dirasakan masyarakat. Tidak boleh ada anak NTT yang gagal kuliah hanya karena faktor biaya,” tegasnya.
LLDIKTI Wilayah XV, lanjutnya, terus melakukan berbagai strategi berkelanjutan untuk memastikan seluruh perguruan tinggi di NTT terakreditasi serta mendorong peningkatan mutu secara konsisten.
Dalam sesi tanya jawab, Prof. Adrianus juga menjawab pertanyaan siswa terkait kemungkinan pembukaan program studi berbasis potensi dan nilai lokal. Ia menyatakan bahwa hal tersebut sangat memungkinkan, sepanjang memenuhi prosedur kurikulum dan kebutuhan masyarakat.
“Kebijakan pemerintah justru mendorong program studi berbasis potensi lokal. NTT memiliki karakter kepulauan dan kekayaan budaya yang bisa menjadi kekuatan akademik tersendiri,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya semangat kolaborasi, keterbukaan (openness), dan gotong royong yang menjadi nilai khas masyarakat NTT dalam memperkuat mutu pendidikan tinggi di seluruh kabupaten/kota.
Menutup sesi dialog, Prof. Adrianus kembali mengajak seluruh siswa untuk tidak ragu melanjutkan pendidikan tinggi di NTT.
“Masalah kita bukan kualitas, tetapi bagaimana memastikan akses semakin terbuka. Mari kita manfaatkan peluang ini untuk membangun NTT dan Indonesia melalui pendidikan tinggi,” pungkasnya.