Kota Kupang, lldikti15.kemdikbud.go.id — LLDIKTI Wilayah XV menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Proposal Penelitian dan Pengabdian untuk Hibah BIMA Tahun 2026. Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari pada 26 dan 27 November 2025 dan digelar secara luring di Aula Universitas Muhammadiyah Kupang dan secara daring melalui Zoom, dengan melibatkan pimpinan perguruan tinggi, dosen peneliti, serta narasumber berpengalaman dari berbagai institusi.

Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Prof. Dr. Adrianus Amheka, ST., M.Eng., membuka kegiatan secara resmi dan menekankan urgensi peningkatan kapasitas penelitian di Nusa Tenggara Timur.
Dalam arahannya, ia menyampaikan bahwa pembukaan pendanaan penelitian dan pengabdian versi Direktorat PPM telah dimulai, sehingga perguruan tinggi harus segera mempersiapkan proposal yang matang.
“Kegiatan ini sangat penting karena jika tidak ada bimtek, coaching, atau pengayaan, kita akan kesulitan meningkatkan kualitas proposal. Pendanaan 2026 besar, tetapi skema afirmasi tidak akan lagi menjadi tumpuan. Dosen harus naik kelas ke penelitian yang lebih tinggi,” tegasnya.
Prof. Amheka juga mengungkapkan bahwa tahun sebelumnya, perguruan tinggi di bawah LLDIKTI Wilayah XV mengalami peningkatan pendanaan hingga 16,2 miliar rupiah, naik sekitar 8,77% dari tahun sebelumnya.
Ia menambahkan, “Yang sulit itu bukan melaksanakan penelitian, tetapi membuat proposal yang baik. Banyak peneliti hebat tidak lolos bukan karena substansi buruk, tetapi karena strategi penulisan tidak tepat.”
Selain itu, ia menekankan bahwa ekosistem riset bukan hanya soal teknologi, tetapi kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan Badan Litbangda, industri, dan lembaga mitra lainnya.
Dalam sambutan mewakili Rektor Universitas Muhammadiyah Kupang, Wakil Rektor I Dr. Abdul Majid menyampaikan apresiasi kepada LLDIKTI Wilayah XV yang kembali mempercayakan UM Kupang sebagai tuan rumah.
“Bimtek ini bukan sekadar pelatihan teknis penulisan proposal, karena saya yakin Bapak Ibu dosen sudah memahami itu. Yang kita harapkan adalah hasil pelatihan ini dapat menghasilkan tulisan yang bisa lolos di hibah BIMA 2026 dan bermanfaat bagi institusi serta bangsa,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya kualitas luaran, serta optimisme agar proposal dosen-dosen NTT dapat bersaing secara nasional.

Dalam kegiatan ini hadir narasumber berpengalaman yakni Prof. Dr. Ir. H. Sudirman Syam, ST, MT, IPM dari Universitas Nusa Cendana dan Prof. Catootjie Lusje Nalle, Ph.D. dari Politeknik Pertanian Negeri Kupang
Dalam penyampaiannya, Prof. Sudirman menekankan bahwa AI dapat menjadi alat percepatan penulisan, bukan pengganti kemampuan intelektual peneliti.
“Dulu saya butuh satu minggu untuk menulis proposal, tetapi sekarang dengan bantuan AI, saya bisa menghasilkan draft proposal dalam lima menit. Namun, AI hanya membantu, ide tetap harus lahir dari peneliti,” jelasnya.
Ia juga memaparkan kesalahan umum yang menyebabkan proposal gugur, di antaranya: Kata kunci tidak sesuai ketentuan, Sistematika tidak mengikuti template BIMA, Penggunaan sitasi dan daftar pustaka yang tidak tepat, dan Tidak konsisten dengan rekam jejak penelitian sebelumnya.
“Reviewer melihat judul dan daftar pustaka terlebih dahulu. Kalau dua bagian ini bermasalah, proposal bisa langsung gugur sebelum dibaca isinya,” ujarnya.

Sementara Prof. Catootjie memaparkan berbagai dinamika skema hibah penelitian dan pengabdian, serta menekankan pentingnya konsistensi topik sesuai rekam jejak penelitian.
“Proposal yang baik selalu berangkat dari kesinambungan penelitian sebelumnya. Jangan tahun ini meneliti warna merah, tahun depan warna biru. Reviewer melihat kesinambungan itu sebagai indikator keseriusan,” jelasnya.
Dengan adanya kegiatan ini para peserta diharapkan meninggalkan kegiatan dengan minimal satu draft proposal penelitian atau pengabdian siap unggah ke BIMA.