Hotline 085126932893
humas@lldikti15.or.id

Rembug Kolaboratif Dorong Perguruan Tinggi Jadi Motor Pembangunan di NTT

Kota Kupanglldikti15.kemdikbud.go.id – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XV Kupang bersama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar Rembug Penyusunan Rencana Kerja Kolaboratif di Ballroom Hotel Aston Kupang pada Selasa, 11 November 2025. Kegiatan ini menjadi tindak lanjut dari nota kesepakatan antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dengan Pemerintah Provinsi NTT yang telah ditandatangani pada 30 September 2025.

Rembug ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perwakilan pemerintah daerah, perguruan tinggi negeri dan swasta, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA), Bank Indonesia, Kadin NTT, hingga media massa. Kegiatan berlangsung dalam suasana semangat kolaboratif untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan pembangunan di NTT.

Kepala LLDikti Wilayah XV, Prof. Dr. Adrianus Amheka, ST., M.Eng., dalam sambutannya menegaskan bahwa rembuk ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara dunia akademik dan pemerintah daerah.

“Forum ini kita lakukan untuk memastikan implementasi nota kesepakatan yang telah ditandatangani berjalan efektif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kita ingin perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga akademik, tetapi juga menjadi motor penggerak pembangunan daerah,” tegas Prof. Amheka.

Ia menjelaskan, kolaborasi ini akan mencakup berbagai bidang, bukan hanya pendidikan, tetapi juga ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.

“Ini tidak hanya terbatas pada bidang pendidikan atau ekonomi, tapi lebih luas — sesuai fungsi dan peran masing-masing dalam koridor sains dan teknologi sebagai pilar pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” ujarnya.

Prof. Amheka juga menyoroti pentingnya inovasi berbasis potensi lokal, dengan mendorong program One Village One Product (OVOP) yang selama ini digalakkan Pemerintah Provinsi NTT untuk diadaptasi di dunia pendidikan tinggi.

“Kita ingin OVOP bermutasi menjadi One Campus One Product, One Faculty One Product, dan One Prodi One Product. Hal-hal kecil seperti produk mahasiswa di desa melalui KKN tematik bisa masuk ke NTT Mart — itu sudah menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat,” ungkapnya disambut tepuk tangan peserta.

Ia menambahkan, kolaborasi lintas sektor ini juga akan diperkuat dengan penyusunan Rencana Aksi Bersama (Joint Action Plan) tahun 2026, yang melibatkan unsur perguruan tinggi, BRIDA, dunia usaha, serta lembaga keuangan seperti Bank Indonesia dan BPS.

“Kita perlu menyepakati pembagian peran, mekanisme monitoring dan evaluasi, serta identifikasi sumber pendanaan agar kolaborasi ini benar-benar berjalan dan berdampak,” pungkasnya.

Sementara itu, Gubernur NTT Emmanuel Melkiades Laka Lena, dalam sambutan yang dibacakan oleh Plt. Asisten I Setda Provinsi NTT, Kanisius Mau, memberikan apresiasi tinggi kepada LLDikti Wilayah XV atas inisiatif penyelenggaraan forum strategis ini.

“Rembug hari ini memiliki makna penting karena menjadi wadah untuk menyusun langkah konkret, terukur, dan berkelanjutan dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi, riset, serta pemanfaatan sains dan teknologi di daerah kita yang tercinta,” ujar Kanisius membacakan sambutan Gubernur.

Gubernur menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus berperan aktif dalam menjawab persoalan-persoalan nyata masyarakat.

“Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi menara gading. Ia harus hadir di tengah masyarakat untuk menjawab persoalan nyata seperti stunting, kemiskinan ekstrem, dan pengangguran,” tegasnya.

Dalam sambutannya, Gubernur juga menyoroti enam arah kebijakan hasil rapat kerja pimpinan perguruan tinggi NTT sebelumnya:

  1. Pendidikan berbasis dampak – riset menjawab persoalan riil masyarakat.
  2. Digitalisasi dan internasionalisasi – memperluas akses dan daya saing global.
  3. Penguatan karakter madani – melahirkan lulusan yang jujur dan peduli.
  4. Kolaborasi multi pihak – sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas adat, dan dunia usaha.
  5. Perguruan tinggi berdampak – fokus pada solusi nyata.
  6. Kolaborasi berkelanjutan – membangun kerja sama jangka panjang.

“Kami percaya hanya melalui pendekatan kolaboratif potensi besar Nusa Tenggara Timur dapat dimaksimalkan. Kita punya sumber daya alam dan manusia yang luar biasa, tetapi perlu strategi berbasis pengetahuan dan teknologi agar memberi nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

Dalam sesi diskusi yang dimoderatori oleh Dr. Herry Zadrak Kotta, S.T., M.T, Kepala LPPM Universitas Nusa Cendana, hadir dua narasumber utama yakni Lutfi Ilham Ramdhani, dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, serta Dr. Alfonsus Theodorus, ST., MT yang merupakanKepala Bapperida Provinsi NTT.

Keduanya menekankan pentingnya memperkuat koneksi antara riset kampus dan kebijakan pembangunan daerah.

“Hasil riset perguruan tinggi harus masuk ke ranah implementasi. Perguruan tinggi di NTT tidak kekurangan ide, tapi kita harus pastikan hasil riset itu menjadi solusi nyata bagi pemerintah daerah dan masyarakat,” ujar Lutfi Ilham Ramdhani.

Sementara itu, Alfonsus menegaskan bahwa sinergi kebijakan daerah dan hasil riset akan menentukan efektivitas pembangunan.

“Transformasi kebijakan pembangunan NTT tidak bisa dilepaskan dari data, sains, dan inovasi. Bapperida siap menjadi jembatan antara pemerintah dan perguruan tinggi agar kebijakan kita selalu berbasis bukti,” ungkapnya.

Forum ini menghasilkan sejumlah rekomendasi utama:

  • Penyusunan dokumen Rencana Aksi Bersama (Joint Action Plan) tahun 2026.
  • Pembentukan Tim Teknis Kolaboratif lintas sektor.
  • Penguatan program One Campus One Product dan KKN tematik berbasis desa.
  • Membangun sistem monitoring dan evaluasi kolaborasi riset dan inovasi daerah.
  • Penguatan kemitraan strategis dengan BPS, Bank Indonesia, dan Kadin.

Hubungi kami di : tel:085126932893

Kirim email ke kamihumas@lldikti15.or.id